Di sela-sela saya menulis tugas akhir untuk menyelesaikan studi magister. Saya menemukan sebuah buku bacaan yang dituliskan oleh Dr. Muhammad Faisal dengan judul “Generasi Kembali ke Akar”, menurut saya buku ini sangat menarik sekali untuk dibaca. Di mana saat membaca buku ini, membuat saya tersadar akan banyak hal.

Seperti halnya sebuah peradaban yang tak pernah lepas dari peran penting generasi muda di zaman itu. Seperti yang terjadi pada tahun 1998 contohnya. Mahasiswa atau yang dikenal dengan generasi muda, melakukan aksi penolakan akan praktek korupsi, kolusi dan nepotisme. Kemudian, generasi muda lainya, yaitu Nadiem Makarim yang saat ini tengah menjabat sebagai Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Perubahan yang ia berikan yaitu dengan menciptakan sebuah platform yang memudahkan setiap orang dalam bepergian, memesan makanan saat sedang malas bergerak, dll.

Buku Generasi Kembali ke Akar

Semua itu dilakukannya atas adaptasi dengan peradaban generasi millenial atau generasi phi (teori yang digunakan Dr. Muhammad Faisal, dan saya pun setuju dengan pendapat beliau). Sebuah generasi yang sangat erat dan akrab dengan kegiatan di dalam dunia digital.

Jika sedikit mundur jauh ke belakang, pada zaman dinasti Abbasiyah. Di mana pada zaman ini perkembangan ilmu pengetahuan sangatlah pesat. Banyak ilmuwan muslim lahir pada zaman ini. Sehingga era dinasti Abbasiyah diberi julukan generasi puncak keemasan islam.

Satu hal yang patut digarisbawahi, di samping fasilitas yang diberikan oleh khalifah pada zaman tersebut, peran anak muda yang haus akan ilmu pengetahuan dan tak pernah menyerah dalam menuntut ilmu; sangat berpengaruh besar. Sehingga berkat semangat yang kuat dan tekat yang bulat, kita bisa merasakan buah hasil dari ilmu pengetahuan tersebut.

Lalu, bagaimana dengan generasi muda zaman sekarang? Generasi yang hidup dengan serba kemudahan. Berbagai macam akses untuk mendapatkan ilmu pengetahuan sudah terbuka sangat lebar.

Tapi mirisnya, masih belum banyak anak muda di zaman sekarang yang memiliki semangat yang kuat dalam menuntut ilmu seperti generasi-generasi muda sebelumnya. Bukankah kita tau, “setiap orang ada masanya dan setiap masa ada orangnya.”

Peradaban agama dan bangsa berada di tangan anak muda. Oleh sebab itu, sebagai generasi muda yang masih memiliki tenaga yang kuat, daya pikir yang mampu digunakan untuk menganalisa hal yang sulit, hingga kemauan untuk belajar dari kesalahan dan pengalaman. Marilah kita bersama-sama membangun sebuah ekosistem yang sarat akan ilmu pengetahuan. Mari saling menguatkan jika salah satu diantara kita mulai melemah dan lelah. Mari bersama membangun peradaban islam dan bangsa. 


Sebab di pundak generasi muda ada tanggung jawab besar membangun peradaban untuk generasi selanjutnya

0 Komentar